Sabtu, 18 April 2015

Menjadi Wanita Paling Bahagia

Judul : Menjadi Wanita Paling Bahagia
Penulis : Dr. Aidh Al-Qarni
Penerbit : Qisthi Press
Halaman : xvi+322
Tahun : 2014 (Cetakan ke -37)
Harga : 80.500


Semua wanita pasti punya cita-cita menjadi bahagia. Bahagia dunia, bahagia pula di akhirat. Definisi bahagia tiap wanita tentunya berbeda. Ada yang bahagia dengan sepatu dan tas bermerk, ada yang bahagia karena telah menikah dan punya anak, ada yang bahagia dengan karirnya. Semuanya tentu bukan hal yang salah, sah-sah aja kalau itu yang bikin kita bahagia tapi, yakin nih cuma itu yang bisa bikin kita bahagia??

Jalan kebahagiaan ada di depanmu. Carilah ia dalam lautan ilmu. – Hal 210

Buku ini memberikan pandangan yang berbeda dalam memandang kebahagiaan. Dikemas dalam sudut pandang Islam sehingga bermuatan AlQuran dan hadits. Walaupun berisikan surah-surah AlQuran dan hadits, tetapi bahasannya sangat mudah untuk dipahami. Intinya sih dalam buku ini, kalo mau bahagia maka harus banyak-banyak bersyukur dan bersabar.

Suka banget sama buku ini karena membuktikan kalo Islam agama yang universal, peduli sama wanita dan nggak pandang gender. Lagian, siapa sih yang nggak kenal penulis Aidh Al-Qarni yang membuat buku La Tahzan itu. Tulisannya top deh, banyak banget motivasi yang bisa diambil dari buku ini.

Chapter dalam buku ini diberi nama dengan nama-nama perhiasan seperti emas, permata, berlian, mutiara, zamrud, yaqut, dan lain-lain. Mungkin maksud penulis adalah bahwa wanita adalah perhiasan dunia. Berarti kedudukan wanita sangat spesial dimata Islam karena peradaban manusia ada ditangan kaum wanita. Kalo wanitanya nggak bahagia, bagaimana bisa mendidik anak-anak dan ngasih pengaruh positif ke lingkungan dong? :)

Bacalah, setelahnya pasti akan menjadikan kita lebih bahagia.

Senin, 23 Maret 2015

Pemenang Giveaway The Wind Leading To Love!!

Terimakasih buat teman-teman yang sudah ikut Giveaway ini. Alasannya bagus-bagus semua dan sebenarnya aku pengen menangin semua tapi.. hadiahnya cuma dua.. hehehe.. kalo masih penasaran pengen banget buku dari Haru ikut giveaway di peserta blog tour yang lain aja atau segera beli di toko buku :D 
Ini dia nama pemenangnya :
Neneng Lestari
Saharani Indriyanti

Selamaaaaatt.. segera kirimkan nama, alamat dan no hp ke mayafloriay(at)yahoo(dot)com paling lambat besok yaaa...Makasih buat Penerbit Haru yang sudah mengadakan Blog Tour dan Giveaway yang kereeenn.

Pssstt.. jangan lupa untuk menyimpan gambar ini karena nanti akan ada Kuis Finale di fan page Penerbit Haru ;) untuk mengumpulkan keseluruh potongannya, kamu harus mengunjungi semua blog yang ikutan blog tour ini dan menebak kata apa yang muncul.



Daftar Peserta Blog Tour :
1. Inge 

Minggu, 15 Maret 2015

Giveaway + Blog Tour The Wind Leading to Love


Sekarang saatnya untuk *GIVEAWAY* yeayyy… Penerbit Haru yang baik hati akan memberikan masing-masing satu buah buku The Wind Leading to Love kepada 2 orang yang beruntung. Syaratnya gampang banget loh :

1. Follow blog Dear Readers menggunakan GFC ataupun Bloglovin
2. Follow Twitter @PenerbitHaru
3. Sebutkan alasan kenapa kamu ingin membaca buku ini, jawab di kotak komentar yaa..
4. Beri komentar mengenai buku The Wind Leading To Love disini

Giveaway akan ditutup sampai tanggal 23 Maret 2015, pemenang harus berdomisili di Indonesia. Jawaban yang paling kece akan menjadi pemenangnya.. hehehe.. Untuk memperbesar kesempatan menang, jangan lupa kunjungi Blog Tour lainnya :
1. Inge 

Pssstt.. jangan lupa untuk menyimpan gambar ini karena nanti akan ada Kuis Finale dari Penerbit Haru ;) untuk mengumpulkan keseluruh potongannya, kamu harus mengunjungi semua blog yang ikutan blog tour ini.

The Wind Leading to Love

Judul : The Wind Leading to Love
Penulis : Ibuki Yuki
Penerbit : Haru
Halaman : 342
Tahun : 2015


Musim panas yang dihabiskan Suga Tetsuji di kota tempat tinggal mendiang ibunya adalah sebuah pelarian atas rasa depresi yang dirasakannya. Depresi itu diakibatkan oleh rumah tangganya yang berantakan serta pekerjaan yang tidak berjalan lancar, tapi dari semua itu, kematian ibunya lah yang membuatnya hancur. Satu-satunya peninggalan ibunya adalah Rumah Semenanjung yang bergaya campuran antara Jepang dan Barat. Rumah itu mewah, menunjukkan bahwa ibunya mempunyai selera tinggi.

Disisi lain ada wanita yang juga merasakan kehilangan. Wanita bernama Fukui Kimiko itu tinggal di kota Miwashi tepatnya tidak terlalu jauh dari Rumah Semenanjung. Kehilangan yang dirasakannya berupa kematian suami serta anaknya. Selama tujuh tahun ia selalu merasa bahwa kematian suami dan anaknya itu adalah akibat kesalahannya.    

Ketika Kimiko mengetahui bahwa Rumah Semenanjung akan dijual oleh Suga, ia menawarkan diri untuk membantu membersihkan rumah itu. Tanpa mengharap imbalan uang, Kimiko merawat rumah indah tersebut. Ia terkagum-kagum dengan koleksi buku serta CD musik klasik koleksi Sensei (ibu Tetsuji). Dibalik kecerewetannya dihadapan Suga, Kimiko sebenarnya adalah orang yang rendah diri.

Sebagai balasan atas bantuannya terhadap Tetsuji, satu-satunya permintaan Kimiko yaitu meminta agar Tetsuji mengajarinya mengenai musik klasik. Musik klasik itulah yang sangat disukai anaknya dulu. Kimiko ingin mengerti apa makna dari musik klasik yang didengarkan anaknya. Musik klasik membuat Kimiko merasa bahwa anaknya masih hidup.

Lagu yang telah meresap dalam tubuh, tidak akan pernah terlupakan. Lagi pula, ada banyak konser terkenal yang memainkan lagu terkenal. Tiap tahunnya banyak musisi baru yang mencoba memainkan lagu terkenal itu. Kalau ada seratus musisi baru, itu berarti ada seratus macam konser yang akan dihasilkan. Kau sudah bisa menikmati musik klasik hanya dengan menghafal satu lagu saja.”  - halaman 123

Selama Kimiko membantu di Rumah Semenanjung hubungan mereka berdua semakin dekat. Bahkan tanpa disadari muncul rasa cinta diantara mereka. Mungkin karena sama-sama merasakan kehilangan itulah yang membuat Kimiko dan Suga merasa mereka senasib. Sayangnya hubungan ini tidak bisa terus berlanjut karena Suga masih mempunyai istri dan anak yang menunggunya di Tokyo.

Ada hal-hal yang tidak bisa berjalan lancar hanya dengan rasa cinta, kan? – halaman 317

Kekurangan dari buku ini menurutku adalah margin yang ngepas dengan halaman buku sehingga terkesan terlalu penuh, mataku jadi capek >.< apa yang sudah baca buku ini merasa begitu juga? :o

Salah satu hal yang aku sukai dari buku ini adalah Rumah Semenanjung milik Ibu Suga. Punya rumah di pinggir pantai kota Miwashi yang tenang sepertinya sangat nyaman. Rumah itu punya perabotan kelas atas, lukisan, banyak sekali buku dan CD, halaman yang dipenuhi tanaman. Pasti cantik banget! Rumah ini juga yang menghubungkan Kimiko dan Suga sehingga mereka menjadi dekat.

Di buku ini juga akan banyak ditemui nama-nama musisi musik klasik yang sebelumnya tidak pernah aku dengar karena aku memang nggak mengerti musik klasik sih. Berkat buku ini aku jadi tahu tentang musik klasik ^^

Hubungan orangtua dan anak juga banyak dibahas melalui percakapan Kimiko-Suga. Misalnya ketika mereka sama-sama merasa gagal menjadi orangtua atau saat Kimiko menyalahkan rumah tangga orangtua yang berantakan.

“…cinta antara orangtua dan anak tidak akan berubah, tetapi cinta sebagai pria dan wanita, akan menghilang jika tidak dijaga..” – halaman 308


Buat pembaca yang menyukai sastra Jepang, musik klasik ataupun keduanya, buku ini sangat cocok sama kamu! Tunggu postingan selanjutnya, karena akan ada giveaway bagi 2 orang pemenang yang beruntung.


Kunjungi juga peserta Blog Tour lainnya :
1. Inge 

Minggu, 22 Februari 2015

Acoustic Life #1

Judul : Acoustic Life #1
Penulis/Komikus : Nanda
Penerbit : Gramedia
Halaman : 288
Tahun : 2014



Lucu! Itu kesan pertama pas liat komik ini.

Nggak lucu! Pas liat harganya yang hampir seratus ribu. Gila aja beli komik dengan harga segitu.

Solusinya? Aku numpang baca aja sampai selesai. Nggak lama kok, kurang lebih satu jam aja langsung kelar. Apalagi waktu itu Sabtu pagi, nggak banyak orang buat rebutan tempat duduk. Cuek aja lah ketawa-ketawa sendiri soalnya memang lucu banget ceritanya. Gambarnya sih nggak bagus-bagus amat, tapi punya ciri khas. Ditambah semua halaman full color bikin mata jadi adem.

Sepertinya di Korea komik keseharian seperti ini sedang ngetren. Nanda, si komikus membuat doodle seputar kehidupan rumah tangganya. Aku ngerasa mirip sama si Nanda ini, banyak kebiasaan dan sifat dia yang ‘ini kok aku banget’.


Sebenarnya aku nggak pengen memasukkan komik ke dalam Goodreads Reading Challenge biar semuanya murni buku (fiksi/nonfiksi). Tapi sudah terlanjur masukkin Acoustic Life ke dalam rak “currently reading”, jadi ya sudahlah yaa.. hehehe

4 bintang buat Acoustic Life yang masih belum mampu bisa kubeli.

Senin, 09 Februari 2015

French Pink

Judul : French Pink
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Grasindo
Halaman : 74
Tahun : 2014


Buku ini nggak sengaja kutemukan pas muter-muter Gramedia tanpa tahu buku apa yang pengen aku beli (timbunan udah ludesss :D). Diantara banyak buku, French Pink nyempil dipojokkan. Segera saja kuambil karena sebelumnya aku udah baca resensi buku ini di Taste Life Twice terlebih rating di Goodreads cukup bagus, ya udah beli aja deh mumpung punya voucher Gramedia.



Alhamdulillah nggak nyesal beli buku super tipis ini karena disamping hardcover, ada ilustrasinya, ceritanya juga bagus banget. Unsur-unsur Jejepangan bikin aku tambah suka karena dari dulu suka sama segala hal yang berhubungan sama Jepang. Pemilihan lokasi di Jepang ini karena mbak Prisca pengen sekalian merekam perjalanan dia pas di Jepang. Selama membaca aku ikut merasakan suasana pertokoan, café dan stasiun kereta sambil berharap buku ini akan dibikin dorama yang mirip seperti Pan To Soup To Neko Biyori.

Disini kita diajak untuk berkenalan sama Hitomi yang punya toko pita Sweet Ribbons di distrik Jiyugouka. Terus, di buku ini juga muncul beberapa istilah tentang warna seperti French Pink (warna kesukaanku!) dan English Lavender. Nah Hitomi ini kan jualan pita, tapi dia sendiri sekarang linglung kalo ada orang yang minta pilihkan warna pita sama dia -_-. Tampaknya Hitomi sedang mengalami stres berat.

Selain Hitomi, ada satu orang lagi yang jadi tokoh dalam novella ini yaitu Hane. Ia adalah sosok asing yang dianggap Hitomi sebagai shinigami, semacam dewa kematiannya orang Jepang. Hane inilah yang bikin penasaran. Sifatnya juga rada nyebelin, bisa dibilang jahil sih. Tapiiii setelah tahu siapa Hane sebenarnya, duh, perasaan jadi campur aduk antara kaget dan terharu.

Ide si penulis menyandingkan warna-warna lembut dengan kematian pada buku ini terasa kontradiktif (dalam artian positif). Biasanya kan kematian cenderung sama warna-warna gelap seperti coklat atau hitam. Hitomi, please jangan mati yaaaa :')



Setelah selesai sama French Pink, aku kehabisan buku bacaan lagi, hiks. Ada yang mau ngasih aku buku mungkin? :p

Rabu, 28 Januari 2015

GRI Readathon Day 2015

Readathon berasal dari gabungan 2 kata, yaitu Read (membaca) dan Marathon (lomba lari jarak jauh). Jadi, Readathon adalah saat di mana kita harus membaca buku dalam jangka waktu tertentu, tanpa berhenti – GRI



Tanggal 24 Januari yang lalu GRI mengadakan National Readathon Day dengan mengajak para Goodreader untuk nonstop membaca buku selama 4 jam. Dimulai dari pukul 12.00-16.00 waktu setempat. Hari itu aku berencana untuk membaca dari pukul 13.00 sampai 17.00 karena aku pikir waktu yang ditetapkan oleh GRI adalah WIB sedangkan aku tinggal di wilayah Indonesia Tengah, jadi ada sedikit kesalahpahaman nih.. hehehe.

Satu jam pertama aku berhasil membaca buku tanpa halangan apapun. Aku memilih Gelombang karya Dee Lestari yang sudah lama aku pinjam tapi nggak dibaca-baca. Setengah jam kemudian aku pindah ruang membaca dari yang awalnya membaca di ruang makan jadi membaca di kamar dan… rasa kantuk pun menyerang >.< sisa waktu Readathon aku habiskan dengan ketiduran deh.

Total halaman yang aku baca selama satu setengah jam adalah 112 dari 465 halaman. Yaah lumayan lah sekitar 24%. Bisa dibilang Readathon ini pancingan agar bisa menyelesaikan buku yang sudah dibaca karena setelah selesai Readthon aku jadi tertarik untuk membaca Gelombang sampai selesai.

Readathon ini kalau diadaptasi jadi kegiatan rutin/pribadi yang dilakukan tiap minggu kayaknya asyik juga. Waktunya bisa disesuaikan sama kesibukan masing-masing. Lebih rame lagi kalau baca bukunya bareng-bareng, asalkan jangan jadi keasyikan ngobrol/chat :p

Let’s make #timetoread.

(penjelasan mengenai Readathon oleh GRI bisa diklik disini