Senin, 27 Januari 2014

Posbar BBI : Samudra di Ujung Jalan Setapak

Judul : Samudra di Ujung Jalan Setapak
Penulis : Neil Gaiman
Penerbit  : Gramedia
Tahun : 2013
Halaman : 264
Rating : 3/5 bintang


Setelah beberapa tahun menjadi anggota BBI, aku bisa ikutan posbar untuk pertama kalinya, yeh yeh yeh. Terimakasih untuk ide bikin kalender BBI, jadi aku bisa tahu kapan jadwal posbar sehingga bisa menyiapkan buku dan resensinya.

Buku yang aku ikutkan untuk posbar dengan tema fabel ini adalah bukunya Neil Gaiman yang menang Goodreads Choice Awards 2013 untuk genre fantasi. Aku sempat bingung fabel itu seperti apa sih? Setahuku fabel itu cerita dengan tokoh binatang yang bertingkah laku seperti manusia (kayak yang kita pelajari pas mata pelajaran Bahasa Indonesia dulu). Di lemariku nggak ada cerita seperti kancil dan buaya dan segala buku dongeng dengan tokoh hewan, jadi aku mention Bebi di twitter. Bebi ngasih aku link GR contoh buku-buku fabel (yang ternyata bukan hanya cerita tentang binatang), oalah ternyata aku punya beberapa buku yang dimaksud.

Ditulis menggunakan sudut pandang anak-anak, tapi buku ini kurang cocok dibaca oleh anak. Ada adegan ehm ehm (sensor) yang walaupun tidak dijelaskan secara gamblang tapi bisa bikin anak-anak penasaran, oke aku simpulkan ini novel dewasa. Si anak laki-laki ini yang tidak diketahui namanya ini berusia tujuh tahun, sifatnya rada mirip sama Charlie di The Perks of Being Wallflower. Anaknya tertutup, rada aneh, dan tidak menyukai keramaian.

Aku tertarik untuk membaca buku ini karena penasaran, kenapa bisa ada samudra di ujung jalan setapak? Bayangkan saja di dekat rumah masa kecil kalian ada sebuah samudra. Kebanyakan orang mungkin tidak percaya, apalagi kalau disana ada seorang nenek yang tidak pernah menjadi tua walaupun terakhir kali kalian bertemu adalah puluhan tahun yang lalu. Nenek tersebut bisa menggunting dan menjahit ulang segala kejadian dalam hidup, sangat ajaib. Namanya juga fantasi ya, aku aja langsung merinding saat ada cacing yang masuk kedalam kaki si anak laki-laki sehingga cacing itu mengacaukan kehidupannya. Untunglah ada Mrs Hempstock Tua, Mrs. Hempstock dan Lettie yang bisa menyelamatkan si anak laki-laki ini.

Banyak yang bilang keahlian Neil Gaiman menulis novel fantasi sudah tidak diragukan lagi. Aku sih setuju-setuju aja dengan pendapat tersebut. Beberapa kali aku dibikin cengo, nggak nyangka Neil Gaiman bisa punya imajinasi sehebat ini. Bahkan beberapa saat aku sempat takut melihat kain rombeng gara-gara membayangkan Ursula Monkton.

Buku ini sudah lama aku baca, lebih dari sebulan yang lalu sehingga agak-agak lupa dengan detail ceritanya. Sejauh yang aku ingat, aku suka sama sampulnya, judulnya yang keren, dan kritikan si anak laki-laki terhadap orang dewasa. Menjalani hidup dengan sudut pandang anak-anak itu menyenangkan, hehe.

4 komentar:

  1. iyaaa sosok si ursula emang nyeremin banget ya. plus adegan cacing itu emang bikin jijik XD

    BalasHapus
  2. Kalo Gaiman yg ini memang untuk dewasa May.. aku juga baru tahu definisi fabel gara2 posbar BBI :D

    BalasHapus
  3. kyaaaaaaaaaa...nyidam buku ini... :))

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/01/30/review-the-frog-princess/

    BalasHapus